Apa Yang Di Bisa di Tiru Jakarta dari Kota Malaka

Liburan harpitnas ini berkunjung ke state of Malaka, salah satu negara bagian yang terletak di sebelah selatan peninsula Malaysia, pas di samping selat Malaka. Sudah lama sekali saya gak berkunjungan ke kota ini, my last trip was probably 11-12 years ago. Sejalan dengan kemajuan jaman, ada beberapa bagian dari kota ini yang berubah, terutama dengan bertambahnya hotel hotel berbintang dan kompleks shopping mall.

But the best part of Malacca is not the shopping malls, it is the old town part that attracts millions of tourist visiting this city every year.

Malaka adalah kota yang penuh nilai historis, karena itu UNESCO tidak ragu ragu menetapkan Malaka sebagai salah satu World Heritage Site, Kota Malaka ini usianya sudah tua sekali, konon story nya kota ini dibangun oleh Parameshwara di abad ke 14. Begitu strategisnya lokasi kota ini sehingga menjadi incaran penjajah penjajah Eropa, berbagai kerajaan Eropa silih berganti menjajah kesultanan Malaka, mulai dari Portugis, Belanda hingga Inggris.

Apa yang membuat saya jatuh cinta dengan kota Malaka ini adalah History Preservation nya, saya kagum dengan pemerintah Malaysia, khususnya Pemda Malaka yang nyaris tidak merubah bentuk kota ini, jalan jalan nya tetap kecil dan bersih dengan ratusan bangunan tua yang terjaga dengan rapi.

Sepanjang area pecinan penuh toko2 yang masih me maintain arsitektur pecinan tempo doeloe, resto resto punya masih banyak yang pake design gedung arsitek kuno, well, terkecuali Hard Rock Café yang terletak dekat jempatan penghubung old Dutch Square dengan china town.
Ini yang menurut saya bisa di pelajari oleh pemda Jakarta dan di replicate untuk model pembangunan area kota tua Jakarta. Saya inget jaman saya kecil dulu di area kota tua sepanjang Jembatan Lima, Pinangsia, Toko Tiga hingga Asemka masih banyak di penuhi gedung gedung dengan design arsitek Tiongkok kuno, very exotic dan keren.

Bukannya di pelihara malah pemda terkesan hobi bener membongkar gedung tua dan di ganti jadi ruko dan mall, salah satu contoh yang bikin hati saya miris adalah klenteng Candra Naya di jalan Gajah Mada yang sekarang “di kangkangi” Novotel, gak ngerti jalan pikiran Pemda kok tanah dan gedung yang mestinya jadi museum malah di face lift jadi hotel !

Hal lain yang bisa di pelajari Pemda Jakarta dari kota Malaka adalah pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi sungai dan turisme. Ciliwung itu, kalo bisa, di bersihkan dan di hidupkan lagi untuk transportasi perahu, ya, minimal untuk tourist boat.

Untuk DPRD DKI, ketimbang jauh jauh studi banding ke Eropa dan Amerika tanpa hasil yang jelas, main main aja ke Malaka yang deket, bikin studi banding, setelah itu dibuat perencanaan dan eksekusi jadi keliatan ada hasil nyata.

20130609-074616.jpg

20130609-074628.jpg

About Gabriel Montadaro

Vice President in one of Multinational companies by day and Night Rider After Dark, A humble servant of God, a curious Traveller, hopelessly romantic, You talk - I listen
This entry was posted in history, Opinion and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s