Gaya Manajemen Ala Thailand

Kalau kita ke toko buku, kita bisa menemukan puluhan buku mengenai gaya manajemen ala negara Barat, Tiongkok ataupun Jepang. Mulai dari model kepemimpinan ala Jack Welch yang menjadi benchmark CEO dunia, Andy Groove (Chairman Intel), Richard Branson (CEO Virgin Group) ataupun kultur kepemimpinan ala CEO Jepang seperti Soichiro Honda (pendiri Honda Motor Co.).

Yang jarang sekali kita temui adalah pembahasan mengenai gaya manajemen CEO di negara-negara ASEAN. Salah satunya, gaya manajemen CEO di Thailand.

Dua tahun lebih saya bekerja di Thailand, bekerja langsung dengan CEO yang orang Thai dan berhubungan dengan banyak pemimpin perusahaan di Thailand, membuat saya in touch secara langsung dengan budaya dan gaya kepemimpinan CEO Thailand. Meski ada beberapa kesamaan dengan kultur kepemimpinan CEO Asia lainnya, banyak gaya CEO Thai yang sangat khas karena dipengaruhi oleh kultur setempat.

Secara umum ada 6 karakter utama yang diharapkan merekat pada setiap CEO Thailand, yakni: (1) Kreng Jai; (2) Bun Khun; (3) Hai Kiad; (4) Nam Jai; (5) Hen Jai; dan (6) Sam Ruan.

Kreng Jai , agak sulit diterjemahkan secara tepat, tetapi kira-kira intinya adalah sikap, yang mana individu perlu mengendalikan emosi, memelihara rasa kebersamaan dan kerja sama tim. Kreng Jai bisa pula berarti menjaga perasaan orang lain dan “menyelamatkan muka” apabila menghadapi situasi sulit atau menyudutkan. Secara umum sikap ini mirip dengan sikap pemimpin Asia lainnya, kalau di Indonesia bisa diterjemahkan sebagai sikap musyawarah untuk mufakat.

Bun Khun , merupakan salah satu sikap mendasar yang diambil dari kultur masyarakat Thailand, yang mana hidup ini merupakan sebuah lingkaran, dan dalam proses mengarungi kehidupan, setiap individu harus saling menolong. Yang tua atau berpengalaman menolong yang muda, yang lebih berkuasa memperhatikan yang lemah.

Ada dua hal penting yang menjadi fondasi sikap Bun Khun, yakni Roo Bun Khun (orang yang ditolong mengapresiasi yang menolong); dan Tob Taen Bun Khun (orang yang ditolong akan membalas jasa si penolong apabila ada kesempatan). Bun Khun sangat penting untuk menjaga toleransi dan keseimbangan dalam kehidupan bisnis, keluarga ataupun pribadi.

Hai Kiad . Pada individu Thai sejak kecil ditanamkan Hai Kiad, yakni sikap memberikan hormat atau respek kepada pihak lain, terutama yang lebih senior, sepuh atau dituakan. Terlihat jelas pada waktu individu Thai memberikan Wai atau sikap respek sambil menunduk dan menempelkan dua telapak tangan di depan dada (sikap umum yang diperlihatkan orang Thailand apabila bertemu dengan senior atau yang lebih tua). Hai Kiad juga terlihat pada jabatan atau ketika memanggil atasan/senior dengan sebutan awal Khun atau gelar lain di depan nama. Hai Kiad ditunjukkan pula dengan tidak mengkritik atau mengonfrontasi individu lain (terutama senior atau yang lebih tua) di depan umum.

Nam Jai , yakni sikap mempunyai inisiatif atau keinginan menolong orang lain tanpa pamrih, tidak mengharapkan balasan dari pihak yang ditolong. Sikap ini diharapkan tersirat kuat pada setiap pemimpin perusahaan atau CEO Thai.

Hen Jai , secara harfiah diterjemahkan sebagai kemampuan melihat dengan hati. Inilah sikap kepada atasan atau yang lebih senior untuk berempati terhadap bawahan atau karyawan junior, misalnya memberikan dukungan ke bawahan yang perlu cuti mendadak untuk membawa anaknya yang sakit ataupun mendengarkan unek-unek karyawan yang merasa beban kerjanya berlebihan. Hen Jai sangat powerful, dalam arti mampu memberikan motivasi yang besar kepada karyawan sekaligus winning people’s heart share and loyalty.

Tidak heranlah, saya melihat banyak rekan Thai yang loyalitasnya cenderung kepada atasan ketimbang perusahaan. Ini dalam arti positif, yang mana perusahaan juga diuntungkan dengan rendahnya turnover karyawan dan meningkatnya produktivitas kerja.

Sam Ruan , sikap yang diambil dari ajaran agama Buddha – 90% penduduk Thai beragama Buddha – yang berarti jalan tengah, yang mana seorang pemimpin diharapkan mampu mengendalikan sikap emosi berlebihan seperti menunjukkan kemarahan atau argumen keras di depan orang banyak. Masyarakat Thai secara umum mempunyai sifat lembut, sensitif dan sangat tidak comfortable dengan suasana emosi dan marah.

Dalam dua tahun berhubungan intens dengan banyak perusahaan di Thailand, saya melihat banyak pemimpin, terutama ekspat/profesional bergaya Barat yang terlalu straight forward dan sering memarahi karyawan di depan orang lain, kemudian “terdongkel” atau “terjungkal sendiri” karena tidak mampu mengendalikan emosi. Makin senior seorang pemimpin, semakin tinggi ekspektasi bawahan pada pemimpin yang tenang dan mampu mengendalikan emosi.

Siam Cement Group:

The Thai Way

Sebagai salah satu perusahaan Thailand yang saya kagumi dan juga menjadi benchmark kepemimpinan perusahaan Thailand lainnya adalah Siam Cement Group (SCG). SCG adalah salah satu perusahaan tertua dan terbesar di Thailand, berdiri sejak tahun 1913 dan diresmikan langsung oleh Raja Thailand waktu itu, His Majesty King Rama VI. SCG juga merupakan perusahaan semen pertama di Thailand.

Sejak awal rekrutmen, ada dua kriteria mendasar yang diharapkan menjadi DNA seluruh karyawan SCG terutama di level pimpinan, yaitu: Kon Geng, yang merujuk pada kapabilitas, kemampuan, keahlian dedikasi untuk terus-menerus belajar. Kemudian, Kon Dee, yang merujuk pada kerja mengutamakan etika, generousity (kemauan berbagi ilmu dan pengalaman), disiplin dan rasa keadilan.

Menjaga Rasa, Menjaga Muka

Sedikit mengenai saving face, ini mungkin gaya yang menurut rekan-rekan ekspat dari Amerika Serikat atau Eropa sulit dipahami. Saving face merujuk pada karakter selalu berusaha keras mengendalikan situasi dan “menyelamatkan muka” individu lain. Sangat penting bagi individu Thai mempunyai rasa hormat yang tinggi di depan karyawan, pelanggan dan keluarga.

Dalam model CEO gaya AS atau Eropa, sikap konfrontatif dan argumentatif bisa dinilai positif, kadang disebut sebagai healthy debate. Namun, sikap ini kurang bisa diterima oleh masyarakat Thai.

Constructive criticism atau kritik yang membangun tidak ada dalam kamus manajemen Thai, karena setiap kritik pasti akan melukai perasaan pihak yang dikritik dan membuat individu lain kehilangan muka. Pimpinan Thai akan selalu mencari cara menyelesaikan masalah tanpa konfrontasi berlebihan dan kadang terlihat kompromistis demi menjaga situasi dan hubungan agar tetap terbangun baik.

Rumus menjaga hubungan antarindividu ataupun atasan-bawahan adalah sangat sederhana, yakni: berbicara secara perlahan, banyak tersenyum, tenang, sabar, dan bersikap bersahabat.

Note : Tulisan di atas telah di muat di majalah bisnis Swa

Gabriel Montadaro
Twitter : Gmontadaro

20130513-232527.jpg

About Gabriel Montadaro

Vice President in one of Multinational companies by day and Night Rider After Dark, A humble servant of God, a curious Traveller, hopelessly romantic, You talk - I listen
This entry was posted in Business, Opinion, Travelling and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Gaya Manajemen Ala Thailand

  1. narastri says:

    Sangat ‘asia’ ya.. Jarak antar atasan dan bawahannya dipenuhi oleh rasa hormat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s