Mari Bangkitkan Merek Indonesia untuk Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015

Dalam rentang waktu 2 tahun lagi Indonesia akan memasuki Era Pasar Bebas ASEAN 2015 dimana produk produk Indonesia akan bertarung dan berkompetisi dengan produk produk dari negara ASEAN lain dalam merebut Market Share, Mind Share dan Heart Share.

Indonesia dengar populasi 250 juta penduduk dan merupakan negara ASEAN terbesar tentu saja menjadi incaran produk produk negara lain untuk melakukan penetrasi masuk pasar Indonesia. Ibaratnya kalau ASEAN adalah kumpulan gadis gadis cantik, maka Indonesia adalah Monalisa nya, pasar Indonesia akan menjadi pasar yang highly competitive diperebutkan dari berbagai negara.

Pertanyaannya adalah Seberapa Siap Merek Merek Lokal Indonesia Berkompetisi dengan Produk Dari Negara ASEAN lain ?

Apakah Brand Brand Indonesia siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau kita hanya akan jadi penonton dan konsumen saja ?

Teman teman sekalian, ancaman kompetisi keras ini adalah nyata, kita tidak menunggu 2015 untuk mempersiapkan diri, kita harus mempersiapkan diri SEKARANG !

Disadari atau tidak, perlahan tapi pasti korporat korporat ASEAN sudah bersiap masuk dan menguasai pasar Indonesia, dan mereka sudah memulai sejak beberapa tahun lalu baik melalui jalur Direct Investment, Joint Venture maupun Corporate Take Over

Amati sekitar kita, di industri bank sudah beberapa tahun terakhir bank bank besar lokal diambil alih bank dari negara ASEAN lain, sejak krisis keuangan 1998, lebih dari 20 bank swasta nasional berpindah tangan ke raksasa keuangan dunia dan regional :

1. Maybank
Bank terbesar di Malaysia dengan total modal US$ 10,5 miliar merupakan pemilik 97,5% saham Bank International Indonesia (BII).

2. CIMB Group
Bank terbesar kedua di Malaysia ini memiliki modal US$ 8,6 miliar dengan aset US$ 98 miliar pada akhir 2011. CIMB group ini menguasai sekitar 97,9% saham CIMB Niaga.

3. OCBC Bank
Bank terbesar kedua di Singapura dengan total modal US$ 20,2 miliar ini menguasai 85,06% saham di OCBC NISP.

4. United Overseas Bank
Bank terbesar ketiga di Singapura ini memiliki modal US$ 18,4 miliar dan menguasai 98,99% saham Bank UOB Indonesia (sebelumnya UOB Buana).

Amati juga industri telco :

1. Singapore Technologies Telemedia (STT) adalah pemilik 42% saham Indosat dan 35% Telkom.

2. Axiata dan Maxis asal Malaysia, masing-masing membeli 27% saham Excelcomindo.

3. Ooredeo Asia Pte Ltd Singapore merupakan pemegang 60% saham Telkomsel

Walaupun Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar Kelapa Sawit, majority ownernya adalah Korporat korporat Malaysia.

Di industri konsumen / FMCG, produk snack Jack & Jills dan Bir San Miguel dari Filipina sudah masuk pasar Indonesia bertahun tahun. Dari Singapura ada produk Ayam Brand dan toko retail sepatu Charles & Keith. Siam Cement Group Thailand adalah pemilik baru pabrik keramik KIA dan siapa yang gak kenal Chaeron Pokpand yang penguasa pasar pakan ternak serta produk daging beku.

Opportunity di industri kuliner juga tidak luput dari perhatian pemain pemain regional, resto Blue Elephant dan Coca Suki dari Thailand sudah di sini, Jaringan resto premium Crystal Jade dari Singapura udah ada, jaringan Resto Pho 24 dari Vietnam pun juga sudah masuk Indonesia.

Dari contoh di atas bisa terlihat dengan kasat mata kalau Indonesia akan jadi medan pertempuran pemilik merek menjelang Pasar Bebas ASEAN 2015.

Untuk mempertahankan diri dan memenangkan pertempuran melawan korporat korporat ASEAN, mau tidak mau para entrepreneur dan brand owner Indonesia harus kerja keras. Tidak hanya pemilik brand besar seperti Indofood, Mayora, Martha Tilaar, Mustika Ratu , Garuda Food atau Wings, juga teman teman UKM mesti pasang kuda kuda dan persiapkan amunisi dalam bentuk :

Brand Searching
Selama bertahun tahun banyak korporat Indonesia yang lebih suka jadi tukang jahit atau jadi pabrikan merek merek terkenal, dengan makin tipisnya margin jadi “tukang jahit”, saatnya korporat Indonesia mulai membangun merek sendiri.

Brand Registration
Banyak perusahaan, terutama UKM, cuek dalam Brand registration, umumnya mikir “ah, usaha masih kecil ngapain mikirin Hak Cipta”. Padahal Brand registration penting sekali untuk melindungi karya kita, ngurusnya gak sulit dan gak mahal, cuma perlu niat dan kemauan.

Brand Value
Kita kita menciptakan produk, kita juga ingin produk ini mempunyai nilai dan bermanfaatkan untuk konsumen, tanpa nilai tambah, produk kita akan dengan cepat menjadi produk komoditas tanpa jiwa.

Brand Activation and Communication
Kalau sudah punya merek resmi dan sudah terdaftar, jangan cuma di diemin aja, Brand hanya akan merupakan nama tanpa arti kalau tidak di promosikan atau di komunikasi kepada konsumen

Brand Availability
Salah satu kunci sukses membangun merek adalah memastikan ketersediaan produk itu di pasar, jangan membuat konsumen harus muter muter ke beberapa tempat untuk membeli produkmu.

Brand Quality
Buatlah produk dengan kualitas sesuai Brand Promise nya, sesuai dengan harga jual nya sehingga punya kekuatan dan kemampuan untuk mengikat loyalitas konsumen.

Brand Consistency
Agar produk atau jasa dapat bertahan bertahun tahun, dibutuhkan komitmen dan kerja keras dari pemilik merek untuk mempertahan konsistensi dari produknya, baik konsistensi dalam menjaga kualitas produk maupun konsistensi dalam men deliver Brand Communication nya sehingga tidak membingungkan konsumen.

Seperti juga dalam peperangan nyata, tentara lokal selalu punya Local Advantage, sebagai warga Indonesia, kita punya kelebihan dalam pengenalan lokasi, kemampuan komunikasi , pengetahuan akan selera dan budaya lokal. Kelebihan kelebihan ini yang harus kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk memenangkan pertempuran melawan merek asing.

Jangan lupakan juga budaya asli nenek moyang kita yaitu semangat kerjasama dan kolaborasi, di era 2.0 ini kita tidak bisa lagi berperang sendiri sendiri, saatnya melakukan kolaborasi dan kerjasama di antara pemain lokal, saya yakin dengan semangat persatuan dan kolaborasi, merek Indonesia akan berjaya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Jakarta, 11 Mei 2013

Gabriel Montadaro
Twitter : @Gmontadaro

20130512-151849.jpg

20130512-151904.jpg

About Gabriel Montadaro

Vice President in one of Multinational companies by day and Night Rider After Dark, A humble servant of God, a curious Traveller, hopelessly romantic, You talk - I listen
This entry was posted in Business, Opinion and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Mari Bangkitkan Merek Indonesia untuk Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015

  1. Grace Amelia says:

    Awesome post Pak :))

  2. Great article Sir. It is a must read posting. Harus jadi wake up call siapa pun yang merasa dirinya adalah bagian Indonesia yang berkedaulatan. Mari bangun dari tidur lelap. Saatnya kita bela Indonesia

  3. andriani says:

    Pada dasarnya hambatan terkadang dari pemilik mall yg lbh memandang brand luar.kalau lihat mall premium
    Pasti byk brand luar dg posisi yg strategis.

    Jaringan resto yg mulai keluar kandang bumbu desa agresif di msia.

    • Hello andriani, kita harus melihat ini sebagai tantangan, bagaimana kita bisa menjual konsep resto kita ke manajemen mall, meyakinkan dia kalo konsep kita akan membawa dampak positive utk image mall tersebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s