Strategi Pemasaran efektif di ASEAN

Pada saat Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menghadiri pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC) ke-9 di Brunei Darussalam bulan April 2013 lalu. Pak Hatta menegaskan Indonesia harus siap menghadapi komunitas masyarakat ekonomi ASEAN di 2015.

Tahun 2015 tinggal 2 tahun dari sekarang, pertanyaannya apakah Indonesia siap menghadapi kompetisi dari sesama negara ASEAN ?

Latar Belakang Masyarakat Ekonomi ASEAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) merupakan sebuah kesepakatan antara anggota ASEAN yang bertujuan untuk menghimpun negara-negara ASEAN ke dalam sebuah pasar tunggal. Konsekuensi logis dari rencana ini adalah adanya pasar bebas (Free Trade Area) antara Negara-negara anggota ASEAN.

Ide Masyarakat Ekonomi ASEAN ini sudah di rintis sejak 10 tahun lalu, ide awal nya muncul pada saat KTT ASEAN ke-9 di Bali tahun 2003 atau biasa disebut Bali Concorde II. Tujuannya sih mulia yaitu untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan standar hidup penduduk negara anggota ASEAN.

Ada 4 area yang menjadi pilar Masyarakat Ekonomi ASEAN yaitu :

  • Pasar tunggal dan basis produksi
  • Wilayah ekonomi yang berdaya saing tinggi
  • Menjadi Kawasan dengan pembangunan ekonomi yang seimbang
  • Menuju integrasi penuh dengan ekonomi global.

Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN nantinya tiap negara ASEAN akan mengurangi hambatan tarif seminimal mungkin hingga mencapai nol persen. Dari sisi Indonesia artinya dengan di implementasikannya pasar tunggal ASEAN berarti arus barang impor dari Negara-negara anggota ASEAN lain akan bebas masuk ke Indonesia.

Keuntungan dan Tantangan Indonesia menjelang MEA 2015

Di mata korporasi korporasi dunia, Indonesia dan ASEAN adalah kawasan yang paling menjanjikan, baik dari sisi jumlah penduduk maupun daya beli yang terus meningkat.

Di antara negara ASEAN, Indonesia merupakan pasar terbesar dimana Sepertiga potensi pasar ASEAN ada di Indonesia. Ditambah lagi pertumbuhan daya beli masyarakat Indonesia yang terus menerus meunjukkan peningkatan tajam, ini juga berkat pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang setiap tahunnya nambah 7 juta orang. Kalau di ibaratkan ASEAN ini adalah sekumpulan gadis cantik, maka Indonesia adalah Monalisa nya, yang tercantik di antara yang cantik.

Sebagai negara terbesar di ASEAN dengan populasi 250 juta penduduk dan di support dengan kekayaan alam berlimpah, adalah sangat absurb kalau Indonesia hanya bersikap pasif dan pasrah menghadapi serbuan produk dari negara negara ASEAN lain. Jangan sampai pengusaha dan Industri Indonesia bukannya jadi tuan rumah, malah jadi penonton di negara sendiri.

Bagaimana Memenangkan Persaingan menghadapi kompetitor ASEAN

Untuk bisa memenangkan persaingan dengan perusahaan perusahaan ASEAN lainnya, ada beberapa hal yang harus segera dilakukan korporat Indonesia.

Pertama, Mulai dengan merubah Pola Pikir atau Mindset.

Kita jangan lagi terlena masa lampau yang penuh proteksi ataupun hanya fokus mengandalkan pasar Indonesia  yang besar ini dimana dikalangan pengusaha Indonesia masih banyak yang punya mindset “Ngapain susah susah mikirin ekspor, jualan ke pasar lokal saja tidak habis habis….”,

Menjelang Pasar bebas ASEAN, kompetisi akan semakin ketat, this is not business as usual anymore ! dimana untuk memenangkan kompetisi melawan korporasi dari negara ASEAN lain diperlukan mental agresif menyerang, bukan mental pasif bertahan.

“The Best Defense is  a good and aggressive Offensive” begitu kata pepatah, untuk bertahan kita harus berani menyerang, bukan hanya menjadi local champion tapi juga berani berkompetisi  dengan masuk ke negara negara lain dan menjadi champion in other country sambil merintis jalan menjadi Regional ASEAN champion.

Ini bukan cita cita mustahil, namun di perlukan keseriusan, kerja keras, komitmen dan konsistensi korporat dan marketer Indonesia untuk mewujudkan cita cita ini.

Pengalaman saya tinggal dan bekerja di berbagai negara ASEAN selama bertahun tahun memperlihatkan betapa cuek nya korporat dan pengusaha Indonesia untuk menggarap pasar internasional. Jangankan pasar Internasional, menggarap pasar ASEAN yang ibaratnya masih di pekarangan rumah belakang pun terlihat terseok seok dan tidak bersemangat.

Sebagai contoh, ketika saya ditempatkan di Vietnam tahun 2003-2006, saya Cuma liat tidak sampai seratus perusahaan Indonesia yang melakukan investasi atau buka kantor di Vietnam, bandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia dan Singapura yang punya ratusan bahkan seribu lebih korporat yang masuk membuka pasar Vietnam, sebagai Informasi, pasar Vietnam bukanlah pasar kecil dan ecek ecek, dengan populasi 80 juta penduduk, Vietnam adalah salah satu rising star economy di ASEAN.

Pilih Produk yang Pas

Walaupun keliatannya mirip, konsumen ASEAN sesungguhnya punya kultur dan selera yang berbeda dalam berbelanja.

Carilah produk atau service yang pas, yang kira kira bakal di minati dan bakal laku di negara yang di tuju. Misalnya untuk produk makanan : Produk mie Instan rasa Indonesia cocok dengan selera konsumen Malaysia namun kalau mau sukses di Thailand atau Filipina, taste nya harus di adjust sesuai selera lokal. Selera Rasa coklat tiap negara ASEAN agak mirip sehingga produk wafer coklat Beng Beng bisa menguasai pasar Thailand, Vietnam, Malaysia dan juga merupakan pemain kuat di Filipina.

Dari segi packaging, Marketer Indonesia harus jeli juga membaca purchase habit konsumen di tiap negara, misalnya produk deterjen bubuk, pasar Indonesia, Filipina dan Vietnam agak mirip dari sisi purchase habit consumer yang banyak membeli deterjen bubuk dalam bentuk kemasan kecil, bahkan sachet 32 gram, sedangkan konsumen Malaysia, Singapura dan Thailand lebih suka membeli kemasan besar 1 kg – 2 kg karena lebih praktis dan secara  value per gram nya lebih murah dibandingkan beli kemasan renceng.

Untuk produk kuliner, kenapa kita harus pasif menunggu  Tom Yam Kung nya Thailand, Singapore Laksa atau Nasi Kandar nya Malaysia menyerbu Indonesia, seharusnya dengan kekayaan kuliner Indonesia, kita bisa jadi pemain besar kuliner di ASEAN, ini sudah dibuktikan donat J.Co yang sukses menaklukkan pasar Singapura, Malaysia dan Filipina begitupula dengan Resto Bumbu Desa yang sukses di Malaysia dan Kedai Baba Rafi yang juga sudah merambah ke berbagai negara ASEAN.

Ketiga, Pentingnya Investasi Merek

Di bandingkan dengan negara maju yang pertumbuhan pasar Private label nya lebih bagus dari branded items atau kawasan Timur tengah dan Afrika yang lebih kurang peduli akan brand, konsumen ASEAN boleh dibilang sangat Brand concious, melek merek. Ini  bisa di lihat dari padatnya jumlah iklan di semua media, dari media cetak, Televisi hingga media luar ruang (outdoor).

Pengalaman saya menggarap beberapa produk di ASEAN meyakinkan saya bahwa investasi merek adalah sangat penting dilakukan oleh korporat dan brand owner Indonesia, dan ini akan menguntungkan tidak saja untuk mendapatkan short term sales tapi long term investment.

Investasi merek tidak mesti mahal atau harus menggunakan medium TV, masih banyak lagi media yang bisa di gunakan untuk melakukan komunikasi merek, termasuk Media on line dan social Media. Yang di penting adalah keseriusan, konsistensi dan komitmen pemilik merek Indonesia dalam melakukan investasi merek di negara negara tujuan ekspor mereka.

Ke empat, Investasi sumber daya Manusia

Setelah punya produk yang pas dengan harga yang kompetitif, maka tidak kalah pentingnya adalah pengembangan sumber daya manusia.

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Indonesia di kenal salah satu eksportir TKI terbesar di regional ini, selain Filipina, namun lebih dari 90% Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri adalah tenaga kerja sektor informal atau buruh, dan ironisnya “import” pekerja justru di sektor tenaga kerja terdidik dan terlatih alias expatriate. Sebagai contoh tenaga kerja Filipina di Indonesia, di perkirakan tidak kurang dari 1000 tenaga kerjaterdidik filipina bekerja di Indonesia padahal sebagian besar posisi yang di tempati expat itu  juga bisa di kerjakan orang Indonesia.

Salah satu kunci memenangkan persaingan di era Pasar bebas ASEAN adalah dengan memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, dengan adanya pasar bebas ASEAN, setiap Individu warga negara ASEAN bisa bebas bekerja di negara manapun tanpa restriksi artinya profesional Indonesia harus siap bersaingan dengan profesional Singapura, Malaysia, Filipina atau Thailand dalam merebut posisi posisi strategis di perusahaan perusahaan yang beroperasi di negara negara ASEAN. Jangan sampai pekerja pekerja Indonesia cuka kebagian posisi staf sementara posisi manajer dan direktur di rebut oleh profesional negara lain.

Inilah waktunya intropeksi, kita Cuma punya waktu 2 tahun untuk menyiapkan tenaga profesional terdidik dan terlatih, yang bukan saja siap berkompetisi memperebutkan posisi strategis di korporat Indonesia, namun juga berani bersaing untuk berkarir dan menjadi profesional di negara ASEAN lain.

Kelima, Pentingnya konsistensi.

Saya serng mendengar joke kalau orang Indonesia sering konsisten dalam ketidak konsistenannya, it is a sad joke but often it’s true.

Selama hampir dua dekade saya terlibat melakukan business deal, baik di level regional dan international, sudah sangat sering saya melihat ketidak konsistenan kita, bukan Cuma urusan ngaret dalam meeting appointment tapi juga  inkonsisten dalam banyak hal, dari hal hal menyangkut waktu misalnya waktu pengiriman order ekspor yang sering meleset, menyangkut kualitas dimana seringkali produk sample dibuat jauh lebih bagus dari real production nya , juga seringkali konsistensi kita dalam men deliver komitmen di pertanyakan oleh buyer luar negeri.

Istilah “hangat hangat kotoran ayam” saya rasakan sering di implementasikan pengusaha Indonesia dalam business relation, keliatan serius dan semangat di awal project namun sebentar saja melempem, kurang fighting spirit, kurang daya tahan.

Dalam berbagai pameran di luar negeri yang saya ikuti, saya sering bertemu pengusaha Indonesia yang baru ikutan pameran di luar negeri satu dua kali saja sudah langsung berharap dapat order ekspor ber kontainer kontainer. Padahal business deal perlu building trust dan ini tidak bisa di lakukan dalam satu dua pertemuan dengan calon pembeli di luar negeri.

Sikap konsistensi akan sangat membantu pengusaha dan marketer Indonesia dalam membuka jalur pasar di negara lain dan build up reputation yang merupakan komoditi paling mahal dalam International business.

Penutup

Jalan menjadi pemain regional itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu perjuangan namun bukanlah Mission Impossible, banyak jalur yang bisa di manfaatkan untuk meilihat celah bisnis di negara ASEAN lain, misalnya dengan mengikuti misi dagang atau ikut pameran di berbagai negara ASEAN, baik lewat jalur ikutan pameran yang di organisir oleh BPEN maupun organisasi independen swasta.

Cara lain adalah dengan berpartisipasi dalam event pameran dan edukasi seperti Jakarta Marketing Week yang merupakan acara tahunan The Markplus conference dari Markplus Inc, dimana pengusaha dan marketer bisa belajar dari para business leader  maupun government official yang bersedia sharing ilmu dan pengalaman mereka dalam mengelola brand maupun company. Jangan lupa, Marketing Week ini juga akan di hadiri oleh lebih dari 3.500 peserta dari berbagai industri, ini adalah ajang paling pas untuk melakukan networking yang pasti berguna untuk kemajuan usaha, baik saat ini maupun di masa depan.

Jakarta, 29 April 2013

Gabriel Montadaro

Email      : gabriel_montadaro@yahoo.com.sg

Twitter  : @gmontadaro

Blog       : https://gabrielmontadaro.wordpress.com

About Gabriel Montadaro

Vice President in one of Multinational companies by day and Night Rider After Dark, A humble servant of God, a curious Traveller, hopelessly romantic, You talk - I listen
This entry was posted in Business and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Strategi Pemasaran efektif di ASEAN

  1. suzieicus says:

    keren tulisannya, keep writing ya🙂

  2. amriltg says:

    Ulasan yang menarik dan bernas…

  3. doni says:

    Damn, Great Inspiring! Thanks

  4. denny_jamal14 says:

    Hmmm…mungkin ini sebabnya para artis daftar caleg…takut kalah bersaing dengan artis asean..:p

  5. Bukik says:

    Tumben bahasanya formal kak?
    Tapi ulasannya menarik, kaya pengalaman😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s